Tampilkan postingan dengan label Empati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Empati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2015

Social Rejections

Jauhi stres dengan musik.
Sebetulnya ada perasaan enggan menuliskan pengalaman-pengalaman yang punya sensitivitas di masyarakat, selain cenderung pribadi juga bisa melukai perasaan seseorang khususnya bagi yang sedang menyandang problem sosial. Tetapi memang ada pengalaman yang tidak bisa diterangkan oleh ilmu pengetahuan walaupun secara teoritis mampu dicari dasar rujukannya dalam buku kedokteran jiwa atau syaraf tetapi ada kalanya terjadi ketika seorang dokter kemudian melakukan pemeriksaan harus angkat tangan atau berkata ngawur sekenanya, akhirnya penderita  problem psikososial ini berhenti hanya menjadi catatan ingatan masyarakat.
Berikut pengalaman buruk yang dialami seseorang akibat adanya social rejection atau penolakan sosial dari kelompok atau lingkungannya. Pada umumnya social rejection menyebabkan sakit pada fisik orang yang mengalami. Penolakan sosial terjadi ketika seseorang dengan sengaja dikeluarkan dari kelompoknya atau sudah tidak diterima oleh lingkungannya.
Penolakan ini bisa meliputi penolakan interpersonal oleh rekannya sendiri, penolakan yang berkaitan dengan romantism dan kerenggangan keluarga. Seseorang dapat ditolak secara individual atau dengan seluruh kelompok orang.
Dua contoh berikut tidak diambil fotonya karena untuk menjaga rasa aman bagi yang bersangkutan, sedang  yang lain diambil contoh fotonya. Perlu diketahui kejadian ini adalah nyata bukan karangan:
Rabu 23 September 2015 seorang siswi SMK dari Pacitan sepulang dari melaksanakan Pelatihan Lapangan sampai di tempat kost langsung kejang seperti kesurupan, upaya medis sudah dilakukan tapi tidak membuahkan hasil, singkat cerita akhirnya sadar hanya dengan  dua botol air mineral. Siswi itu merasa sangat kesakitan fisiknya ketika laporan pelatihannya dinyatakan tidak bisa diterima padahal teman sekelompoknya lolos semua, dia merasa tersingkir dan merasakan penolakan sosial oleh lingkungannya karena dianggap tidak sama dengan yang lain.
Masih pada hari yang sama tapi jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, dua pasang muda-mudi pulang dari rekreasi di Telaga Putri Kaliurang Yogyakarta. Ada satu gadis remaja yang posisinya seperti naik kuda di boncengan sepeda motor, kaku seperti robot, tidak bisa ditanya atau membisu dan tidak mengenal orang disekitarnya. Upaya magis sudah dilakukan tapi tidak membuahkan hasil, akhinya sembuh dengan sedikit sentuhan di arah cakra jantung, kalau anda faham dengan inner power cara itu sangat mudah dilakukan. Ketika dia sadar disitu ada ibunya yang sedang menunggui dirinya, semua berakhir dengan ceria seperti tidak terjadi sesuatu. Apakah kesurupan?.Tidak, dia hanya stres takut pada orang tuanya karena pulang larut malam, takut dimarahi takut ditolak tidak dianggap sebagai anak yang baik lagi. Gadis itu  sudah merasakan penolakan  sejak turun dari Kaliurang menuju ke rumahnya.
Peristiwa yang ketiga lebih keterlaluan lagi kejadiannya. Pagi subuh 25 Mei 2015, seorang ibu muda membawa segepok perhiasan termasuk cicin dan gelang dari emas dan sebuah jambu mete dengan sedikit pasir menempel di buah itu. Ketika saya tanya untuk apa semuanya ini? apa jawabnya? Perhiasan ini untuk bapak, ini batu dari mbah..(menyebut tokoh spiritual terkenal se Jawa) saya tidak kuat memakainya. Emas ini untuk membeli komputer untuk anak saya, tolong ya pak dijualkan. Iya, jawab saya. Nah jambu mete ini untuk apa?, Ini untuk makan bapak, makan ya pak! Ya, alhamdulillah saya terima, jawab saya.
Anehnya setelah itu ibu tersebut menjadi ceria ketika semuanya di iyakan, tidak merasa ditolak. Selidik punya selidik, pagi hari sebelumnya ibu ini dibuat kaget oleh sesama ibu-ibu yang sedang memasak daging sapi dalam rangka iedhul qurban, dengan bergurau dikatakan bahwa dia cocok kalau ikut disembelih juga sebagai korban. Kata-kata itu dirasakan sebagai penolakan sosial oleh yang bersangkutan sehingga stres dan sakit serta tidak sadar dengan perilakunya.
Inilah perangkat yang diserahkan ke saya pagi itu, gelang emas, cincin emas,
batu dan kalung spiritual, tas wanita, wadah perhiasan. Laptop nya tidak
termasuk, itu milik saya sendiri!



 
Laci almari ini juga ikut diberikan ke saya, sayang jambu metenya tidak ikut terpotret!
Malam ini 25 September 2015 kisah bersambung dengan aktor yang berbeda, seorang pemuda Sarjana lulusan Universitas terkenal dan sedang menempuh S2 di bidang komputer di Yogyakarta datang diantar saudaranya. Bercerita sambil berkaca-kaca betapa sangat kecewa hidupnya karena ibu dan kekasihnya memberi penolakan, tentunya penolakan sosial dan romantism ya?, hanya  karena dia senang dengan ilmu-ilmu spriritual.
Setelah dia bercerita banyak tentang Syech Siti Jenar, situs Bayat, Gua Cerme, pantai Sundak di tepi laut selatan Yogyakarta dan aneka sinar yang cemerlang dan saya menganggapnya hal biasa saja tidak ada yang aneh, eh...dia pulang dengan mengucap salam dan wajah ceria serta bisa naik motor sendirian padahal waktu sudah jam 22.00 malam. Walahualam bi sawab, hanya Allah yang tahu!



Bagi anda yang skeptis tentang hal-hal diluar nalar ini ada satu
contoh tentang sinar melayang yang sempat saya potret beberapa
saat yang lalu. Apa komentar anda?


Just Relax!


Kamis, 09 Mei 2013

Animal Care

Mungkin anda tidak pernah peduli terhadap oranghutan, padahal hewan ini diduga mampu menyebarkan 540 jenis bijian setahun dalam siklus makanan mereka. Kalau saja kita anggap satu oranghutan berkeliaran 1 km persegi, kita bisa membayangkan betapa rapatnya tumbuhan yang tumbuh akibat adanya oranghutan ini dan gratis lagi!
Tapi nasib sial menimpa hewan ini, ditangkap, di"penjara" bahkan dibunuh. Karena itu di Yogyakarta, tepatnya di dusun Paingan, Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berdiri Animal Care, terletak di perbukitan pada ketinggian 42 m dari muka laut.
 Bagi yang penasaran anda bisa Klik disini. Jalan paling mudah untuk menemukan Jogja orangutan centre adalah melalui jalan Wates, sampai di bangjo pertigaan Sentolo anda belok kanan, ketika saya berkunjung lagi tahum ini 2013 sayang sekali lampu lalu lintas sudah tidak ada, jadi anda bisa langsung belok kanan  melalui pasar Sentolo - Pengasih dan teruskan saja ikuti arah penunjuk jalan kira-kira 6 km akan terlihat pertigaan, ambil kanan dan sampailah disana.
Formasi topografi daerah Sentolo Kulon Progo yang akan anda lalui diduga terbentuk saat kala Miosen Tengah, lahan bergelombang, berbukit, bergunung, karena itu anda akan banyak menelusuri perbukitan, tanahnya cenderung lempung dan lengket di sepatu. Berbeda dengan kondisi tanah di bagian Yogyakarta yang lain yang banyak ditutupi oleh pelapukan erupsi Gunung Merapi banyak berupa debu dan berpasir. Jika ingin kesana yang perlu diingat adalah tempat itu bukan kebun binatang. Kalau ingin melihat binatang bagaimana bertingkah laku saya sarankan lebih baik ke Kebun Binatang
Ini beberapa foto di tempat animal care itu:

    Beberapa kera ekor panjang menghuni panti animal care sebelum dilepas kehutan.

Ada beberapa pilihan "menu" didalamnya.

Cottage

 Suasana malam disekitar cottage

Kamar kelas VIP. Mau coba satu dua hari?

Ada tempat istirahat

Jalan menuju Animal care, mulus.





Just Relax!


Jumat, 20 April 2012

Balerante Riwayatmu Kini



Saya harus mengatakan sejujurnya, seperti Kinahrejo dan daerah lainnya yang terkena awan panas gunung Merapi pada bulan Oktober dan November 2010 yang lalu, desa Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah sekarang hidup dalam kesulitan, bahkan sampai hari ini ketika tulisan ini dibuat Balerante termasuk daerah yang harus dikosongkan. Semua infrastruktur pendukung kehidupan masyarakatnya rusak diterjang awan panas. 
Para petani kehilangan kebunnya, rumah hancur, air sulit. Kehidupannya belum pulih. Mereka membutuhkan waktu lama untuk kembali pada kehidupan semula. Semoga mereka tabah.
Balerante tepat dibawah kaki Merapi pagi itu Minggu 19 Desember 2010 pagi berangin sangat kencang dan dingin. Tak ada orang dewasa yang bisa berdiri tegak tanpa bergoyang saat itu sehingga untuk membuat sebuah foto sangat sulit. Pagi berkabut dan berembun, namun begitu beberapa penduduk nekad bermalam di sisa-sisa rumahnya yang hancur, gelap tanpa listrik. Tapi bagaimana lagi keadaan memaksa harus begitu.
Balerante mempunyai struktur geografis seperti kota peristirahatan, berteras-teras dan lanskap Klaten atau Yogyakarta akan nampak terbentang dibawah kaki langit menjadikan sangat indah. Tetapi kini semua bercampur antara keindahan dan duka, rumah dan desa itu kini tak tampak lagi.
Foto-foto berikut ini bisa memberi gambaran desa Balerante:

 Tak ada bangunan yang utuh, pohon-pohon brindil tak berdaun!

 Kalau malam saya tidur ditempat ini

 Hari-hari kami sepi

 Klaten dan Yogyakarta dibawah sana

 Mengapa tak dibawa oleh pemiliknya, kemana mereka?

 Can't Just Relax!

Kamis, 19 April 2012

Merapi

Ini kisah nyata yang saya alami sendiri waktu terjadi  erupsi gunung Merapi pada bulan November 2010 yang lalu. Bersama keluarga kami harus mengungsi selama 3 (tiga) minggu di masa bencana itu. Dusun kami terletak 17 km diukur dari puncak Merapi sehingga harus meninggalkan rumah keluar dari area 20km yang ditetapkan. Ada juga beberapa orang yang dengan gagah berani dan tabah (mungkin) tidak mengungsi, tapi itu saya pikir bukan mereka pemberani tapi bodoh atau tidak tahu apa-apa tentang erupsi Merapi dan akibatnya.
Kisah ini saya tulis kembali berdasar rekaman sms yang tercatat di HP. Ketika itu saya menggunakan 3 (tiga) nomor sekaligus untuk memonitor dan meneruskan pesan yang datang dari para relawan. Semoga berguna.

Erupsi besar Merapi mulai 26 Oktober 2010 sampai tulisan ini dibuat 08 November 2010 belum berhenti, bahkan fluktuasi letusan tak bisa diprediksi. Korban berjatuhan. Dari data resmi diketahui awan panas meluncur sampai 12.5 km dari puncak, tetapi fakta dilapangan awan panas yang meluncur melalui alur sungai Gendol sampai sejauh 15 km. Akibatnya kampung dan rumah di dusun Bronggang terbakar hangus, korban bergelimpangan. Memilukan!. Clear area dimulai dari 5 km, kemudian ditingkatkan menjadi 10 km, ditingkatkan lagi menjadi 15 km, kemudian hari berikutnya menjadi 20 km. Akibatnya mengerikan, pos-pos pengungsian setahap demi setahap dipindahkan ke daerah yang lebih jauh dan lebih rendah dari puncak. Akumulasinya terjadi pada hari Jumat dini hari tanggal 05 November 2010, letusan bertubi-tubi mulai jam 24.00 wib, menggelegar bergemuruh menyeramkan. HT dan alat komunikasi lainnya saling memanggil call sign para relawan untuk mengirim informasi di pagi buta itu, 36.000 pengungsi di tarik kebawah diluar clear area 20 km dari puncak memadati stadion sepak bola Maguwoharjo Sleman. Sirene polisi dan ambulance meraung sepanjang malam sampai pagi hari berikutnya membuat suasana diantara cemas dan harapan silih berganti.
Untuk mendapatkan gambaran bagaimana gentingnya keadaan saat itu berikut ini rekaman sms percakapan antara satgas-relawan dengan saya yang mem forward ke dukuh dan tetua-tetua desa yang bisa dijangkau.

Percakapan Rabu 03 November 2010:
Miss Yeni, Solo, 00:25 wib:” Ass. Bagaimana bapak kondisi di rumah Jogja?, semoga baik-baik saja.”
“Ok, monitor, bantu kami……”
Sore dan malam harinya: (sementara sepanjang pagi dan siang itu Merapi tetap mengamuk)
Bayu, Bengkulu, 16:41:” Bagaimana perkembangan Merapi pak??? Gimana keadaannya pak??? Jadi ikut khawatir….”
“Kritis, up date info terus kesini-call satgas terdekat?”
Satgas xxx,16:52 wib:” Rekan-rekan gunakan jalur alternatif dari Cangkringan ke Solo. Jalan Kaliurang macet total. Info dari teman-teman relawan….”
Satgas xxx, 16.55 :” Teman-teman tolong jangan naik dulu. Stand by di ring 15 km. Di Kepuharjo sedang berkonvoi evakuasi menuju ring aman.”
Bayu, Bengkulu, 17:12:”Namanya mas Arief…Dia satgas Merapi juga. Sekarang posisinya di  atas. Dia pasti tahu kondisi Merapi….Alumni angkatan 1 Gamping pak.”
“Ok, monitor-kirim call sign dan nomor ya?!”
Aan, Bantul, 18.05:” Info terakhir dari teman…jarak aman radius 15 km dari  puncak, bagaimana keluarga ngungsi tidak pak?”
“Standby…. siap!”
Miss Yeni, Solo,18:32:” Radiusnya bertambah bapak menjadi 15 km. Dari tadi siang ada letusan terus bapak…”
“Ya, bantu monitor terus…”
Bu Dukuh, 19:19:” Kelihatannya masih aman pak tapi nanti malam kelihatannya perlu waspada.”
Abi, Yogya, 19:56:” Berita terakhir Metro, banjir lahar dingin sungai Kuning dan Bebeng, Merapi tertutup kabut.”
Aan, Bantul, 21:03:”Pak di tv one Merapi baru meletus lagi. Pengungsian di km 21 dipindahkan.”
Bu Dukuh, 21:06:” Dari desa belum pernah ada instruksi pak, jadi pas malam itu saya putuskan sendiri untuk mendorong warga agar waspada pas jam 1 malam itu. Saya cuma stand by di depan tv. Mari kita saling mengingatkan pak.”
Teguh, Wates, 21.10:” Pak baru saja saya nonton tv one…?? Zona aman makin ke arah selatan…Mudah-mudahan tempat bapak dan pak Sur tetap aman, amin.”
Nova, Bantul, 21:16:” Pak bagaimana keadaan disana?”
Surip gamx, 21.22:” Maaf pak baru bisa balas karena situasi diatas sangat Crowded sampai sekarang, tapi kalau daerah PPPG/UII sementara masih dalam wilayah aman pak.”
Surip gamx, 21.33:” Ya pak, posisi saya 1.5 km diatas Morolejar.” (Jarak Merapi – Morolejar kira-kira 12 km, pen)
Teguh, Wates, 21.40:” Pak maaf mau tanya…Kalau dilihat secara spiritual apa yang sedang terjadi?, apa Merapi dan Kraton sudah tidak harmonis…?”
Haryanto, Gmping, 22.08.:”Bagaimana pak sikon tempat bapak? Silahkan ngungsi dirumah saya.”
Agung Riyadi, 22:08.:”Ya pak, apa yang bisa saya bantu pak..?”
Miss Eti, Yogya,22:31.:” Jika di Yogya keadaan masih aman tapi kalau kawasan merapi kabar terakhir tadi meletus lagi. Bapak dan keluarga bagaimana?”
Miss Ari, Solo, 22.43.:” Malam pak Riz, bagaimana kondisinya Yogya sekarang?”
Surip gamx, 22.59.:” Sementara bertahan dulu pak, tapi siap-siap karena areal pelan-pelan makin luas, jauhi alur sungai pak.”
Agung Riyadi, 23.03.:” Siap pak, kapan nanti saya bantu.”
Bahij, Bantul, 23.06.:” Jalan Kaliurang padat. Banyak bis dan angkot kebut-kebutan turun, pak. Pak bisa minta nomor Arip Surip?”
Surip gamx, 23.07.:”Sementara Sungai Kuning mulai Kaliurang kebawah masih aman tetapi tetap ada peluang awan panas masuk alur, tenang dulu sambil pantau kondisi lingkungan jangan terpancing isu kecuali ada himbauan dari petugas, lebih baik siaga dulu pak tetap prioritaskan anak-anak, ibu dan orang tua pak.”
Agung Riyadi, 23:06.:” Station apa bak terbuka pak? Apa langsung saya naik sekarang?”
Surip gamx, 23:25.:” Siaga saja pak, kalau bisa kumpulkan dalam 1 lokasi biar kalau darurat cepat evakuasinya. Barak Hargo sudah mulai dikosongkan turun ke Pakem.”
Malam itu 2 (dua) kendaraan  pick up dan  Jip bersama bebrapa motor relawan melewatkan malam. siaga, dirumah saya dengan berdebar dan suasan tak menentu.
……….setelah itu suasana mereda………..sampai pagi berikutnya……..

Percakapan Kamis 04 November 2010:
Bahij, Bantul.,01:26.:” Bagaimana keadaan terakhir Merapi pak? Ada kabar apa dari Arip?”
"Kritis, belum tahu..”
Mr.X, 05:07.:” Saya sampai lapangan lihat utara, Wedhus gembelnya menjulang tinggi.”
Angga, 05:45.:” Kondisi wedhus gembel dari lapangan menyeramkan……”
“Saya kesana!”
Aan, Bantul, 07:47.:” Merapi keluar awan panas lagi jam 06.00an.”
Relawan mengamati dari Klidon Sukoharjo Ngaglik Sleman 17 km dari puncak!

Habieb, Batam, 08:49:” Radius titik aman minimal 15 km dari puncak pak.”
“Ya…”
……..suasana semakin tak menentu, anak-anak sekolah hari itu mulai dipulangkan lebih awal……..

Angga, Yogya, 13:29:” Pak atas bagaimana? Pakualaman dari tadi hujan diserati kilat….”
Nova, Bantul, 16:25.:”Siap pak! Apa sudah ngungsi pak?”
“Monitor, kirim 8 orang kesini!”
Nova, Bantul, 16:30.:” Ok pak!
“Yang piket semalam suruh naik lagi…”
Nova, Bantul, 16:32.:” Siap pak!
Agung Riyadi, 16:32.:” Ok pak!
Bahij, Bantul, 18:06.:” Ada info apa pak dari Arif Surip?”
Miss Yeni, Solo, 18:42:” Kondisi merapi masih awas bapak.”
Bu Dukuh, 18:45.:” Info terakhir hujan abu di Pakem Pak!”
Miss Yeni, Solo, 18:47.:” Bapak mengungsi? Kalau darurat ke Solo bapak. disini alhamdulillah aman bapak!”
“Monitor Yen, kami pertimbangkan!”
Miss Yeni, Solo, 18:48.:” Baik bapak.”
Maryanto, 18:59.:” Maaf pak, apa Merapi makin mengkhawatirkan untuk kampung kita pak?, terimakasih!”
Maryanto, 19:04.:” Tapi kalau bapak punya feelling tidak aman dan mau mengungsikan keluarga, saya juga sementara mau pindah, pak.”
Maryanto, 19:05.:” Ok Pak Terimakasih.”
Angga, Yogya, 19:24.:” Kabar dari HT Merapi mengeluarkan lava pijar, dilihat dari Ketep Pass dan kabar terkini hujan pasir sampai Turi dan abu sampai kota…”
Nova, Bantul, 19:25.:” 15 menit lagi sampai 5 orang.”
Angga, Yogya, 19:25.:” Yang ke selatan luncuran ke arah Gendol.”
Melihat suasana yang semakin mencekam dengan berat hati akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman menuju ke Kotagede,Yogyakarta. Kira-kira 25km dari puncak.
“We move to YK”
Angga, Yogya, 19:31.:” Ya pak, saya tunggu kabarnya..”
Cahya, Purwomartani, 20:07.:” Suara gemludug ini tidak hilang-hilang dari mana ya?”
Miss Ari, Solo. 23:04.:” Bagaimana keadaan Yogya pak Riz?”
“Gawat..!”
Miss Ari, Solo, 23:20.:”Berarti itu menunggu puncak meletusnya ya pak?” (Saya tidak menjawab pertanyaan ini karena malam itu suasana sulit digambarkan karena sangat mencekam. Sampai akhirnya relawan mengingatkan saya.)
Surip gamx, 23:49.:” Siaga pak, gempa dan dentuman sudah 4 jam makin gencar. Daerah Srumbung dari jam 8 hujan pasir tidak henti-henti.”
Cahya, Purwomartani.23:56:”Gemuruh ternyata dari Merapi sampai menggetarkan pintu rumah.” (Jarak Merapi – Purwomartani kira-kira 20 km, pen)
Pos Swasta Kotagede.23:57:”Cepat turun keluar ring 25, ke Pakel”.( Malam itu pengungsian menyemut sepanjang jalan, jarak 2 km bisa ditempuh lebih dari 1 jam!)
Surip gamx, 23:59.:” Kami juga sudah ditarik turun sekarang di perum Pamungkas, kondisi jalan crowded, begitu, karena warga yang dari atas turun semua.” (Jarak Perum Pamungkas – Merapi kira-kira 15 km, pen)

 Relawan siaga sepanjang malam di Kotagede, tapi malam call sign jam 02.00 pagi
meminta mereka membantu para pengungsi yang sudah masuk kota Yogyakarta

Percakapan Jumat 05 November 2010:
Surip gamx,, 00:05.:” Gemuruh dan gempa hebat pak…!”
Miss Eti, Yogya, 00:13.:”Bagamana situasi dan kondisi di tempat bapak?”
Bu Dukuh, 00:14.:” Sampai jam ini belum ada info pak, saya benar-benar tegang, ini pak anak-anak tidak bisa tidur.”
“Cepat tarik mundur info sudah saya berikan!”
Surip gamx, 00.31.:” Jangkauan bahaya diperluas radius 20 km, ungsikan keluarga sekarang juga pak!!”
Aan, Bantul, 00:32.:” Pengungsian Hargobinangun di tarik kebawah, sudah terjadi hujan pasir dan abu…terdengar suara gemuruh…”
Nova, Bantul, 00:33:” Rumah utara ada yang jaga tidak pak?, sekarang yang ikut bapak siapa?”
“12 pengawal siap di Kotagede”
Angga, Yogya, 00:36.:” Dari setengah jam lalu Merapi mengeluarkan rentetan suara dentuman keras diserati hujan abu.”
Aan, Bantul, 00:39.:” Di posko bagaimana bos?”
“Strezz…, siaga satu, hujan pasir disini” (Yang dimaksud disini adalah di Kotagede, tempat kami mengungsi, jarak dari Merapi kira-kira 25 km lebih, pen)
Nova, Bantul, 00:47.:” Penduduk kampung bapak sudah ngungsi atau bagaimana?”
Aan, Bantul, 00:49.:” Teman saya sudah pada turun pak, info awan panas sampai 12 km, pos yang mungkin aman sampai UII.”
Surip gamx, 00:49,:” Pakem hujan krikil.”
Aan, Bantul, 01.01.:” Pengungsi yang diatas termasuk yang Pakem sudah di Stadion Maguwoharjo, hujan krikil di UII, hujan pasir sampai rumah saya.”
Sur, Mindi.01.08:” Pak, Mindi hujan krikil.”
Angga, Yogya 01.10.:” Hyatt hujan pasir……..”
Maryanto, 03.22.:” Mindi bubar pak pada ngungsi semua, saya ke Bantul pak.”
Bayu, Bengkulu, 03.51.:” Gimana perkembagan sekarang pak?”
Bayu, Bengkulu, 03:59.:”Tapi tak ada korban kan pak? ada apa kok merapi begitu ganas?”
Bahij, Bantul, 04:17.:” Bagaimana daerah bapak? Ring road macet dini hari!”
Miss Dita, Tangerang, 05:42.:” Pak bagaimana keadaan disana?! hati-hati ya pak!”

Percakapan selanjutnya merupakan anti klimak dari malam sebelumnya, umumnya menanyakan keselamatan dan kesehatan, Ya Allah berikan kesabaran pada hati kami, amin!
Foto berikut ini bisa menjadi gambaran suasana Merapi:


Letusan 4 November 2010 pagi


                            Aliran sungai Code membelah kota Yogya, mata airnya di gunung Merapi

Can't Just Relax !