Minggu, 08 Januari 2017

Suwanting romantisme lereng Merbabu

Suwanting sebuah nama dusun yang terdengar manis dan romantis. Itulah adanya, anda segera tahu keramahan penduduknya jika sudah sampai disana. Bagi para pendaki gunung Merbabu, nama ini sangat dikenal karena ini dusun pertama di jalur selatan  lereng gunung Merbabu Magelang Jawa Tengah, yang harus dilalui lebih dahulu. Suwanting yang subur dan tenang jauh dari keruwetan kehidupan yang pelik seperti di kota, mungkin lebih mengena disebut Suwanting memberi suasana tenang dan tentram.
Pagi itu sekitar pukul 09.30 WIB  kabut menutupi lembah dan jalan "double track" yang akan kami lalui membuat suasana serasa kuncup di hati. Bagaimana tidak, kami akan menelusuri lereng Merbabu melaui jalan ditepi tebing dan jurang dengan sepeda motor melintas lembah pertanian yang menganga serasa mau menelan jika sedikit saja salah mengambil jalur.
Jalur menuju Suwanting kami tempuh melalui jalur kecamatan Dukun Kabupten Magelang, naik ke Ketep Pass kemudian menuju ke Suwanting, menelusur lembah merbabu dan tembus di jalan raya menuju Boyolali tepat di sebelah utara gunung Merapi dekat dengan Wonolelo rest area. Dalam perjalanan antara Dukun - Ketep itu kami sempat menelusuri 3 candi, Candi Lumbung, Candi Asu dan Candi Pendem,  yang diperkirakan dibangun pada awal abad IX saat pemerintahan Mataram Kuna.
Inilah beberapa foto perjalanan itu:


Candi-candi "Perwara" rata-rata punya nasib sama, tidak utuh!
Reruntuhan Candi Asu, tidak menunjukan keterangan detail

Pahatan batu ini memang mirip Anjing (Asu, bahasa Jawa)
Candi ini berada di bawah permukaan tanah (Pendem, Jawa)  
Jalan menuju Candi Pendem
Di pondasi candi Pendem ada ceruk permainan Dakon.
Candi ini tempat aslinya beberapa puluh meter di tepi kali Apu,
dipindah karena letusan Merapi 2010. 


Dari tempat ini bisa melihat lanskap utara Merapi yang indah




Lembah Boyolali antara Merapi - Merbabu

"Strawberry House" nampak dari Ketep Pass


Jalan dilereng Merbabu menuju Pos Pendakian Suwanting
Inilah dusun Suwanting yang menawarkan keramahan
Pak Bardi dengan ramah menjelaskan route pendakian 
Petani Suwanting, ramah!
Awesome! Srikandi Suwanting, more than just a racer,believe it!
Subhanallah! lihat kami hanya titik kecil di jalan
 menuju Puncak Kedungrojo
 


Sebagai akhir perjalan pada hari itu yang sepanjang lebih dari 121 km dengan mengitari lembah lereng Merapi - Merbabu, kami sempatkan menuju Masjid, untuk shalat Luhur di situs makam Haji Kiai Raden Santri, Gunungpring, Muntilan, Magelang. Pastikan anda sehat dan kuat kalau mau kesana, Masjidnya luas dan bersih tapi anda harus menaiki tangga yang lebih dari 200 step, lumayan untuk mengetahui jantung, kaki, tulang belakang dan paru-paru anda sehat! Pada saat kembali kami memilih  rute melewati Ancol, Kalibawang, Kulonprogo. Di rute ini kendaraan bisa dipacu lebih dari 80 km perjam. Wuuzz...

Ada rest area setelah 50an step
Kemiringannya mencapai 30 derajat..


Wa Allahu bissawab, just relax! 

2 komentar:

  1. Keramah tamahan yg pada jaman skrng sudah susah untuk sitemui.jaman skrng...keramah tamahan kadang malah dicurigai sebagai awal modus kejahatan.atau memang pergeseran masyarakat dr yg semula ramah tamah menjadi masyaarakat yg cuek,tdk peduli dll krn oknum yg memanfaatkan keramah tamahan itu sendiri.seberapa lama sebuah desa yg terpencil,yg tentram,akan mempertahankan keramahtamahannya.

    BalasHapus
  2. Iya ya bisa saja begitu ada orang yang memakai topeng keramahtamahan untuk berbuat kejahatan sehingga menciderai perasaan sosial seseorang. Sesungguhnya keramahtamahan itu adalah pancaran keimanan seseorang. Konon katanya sikap seseorang itu terpancar melalui sikap-sikap seperti ini:1. kemampuan intelektual (Intelectual ability), sikap terhadap kehidupan dan lingkungan sekitar (Attitude toward life and surroundings), dan sikap terhadap orang lain (Attitude toward other people). Ayat-ayat ini bisa dipakai rujukan:
    Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh, janganlah engkau remehkan sekecil apa pun dari sebuah kebaikan walau sekedar engkau bertemu saudaramu dengan beseri-seri” (HR.Muslim).
    “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”.(QS.An-Nisa’:86).
    “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS. Ali Imran:133-134)
    Kalau kita setuju keramahtamahan itu merupakan bagian dari kebajikan, maka beruntunglah kita! Salam.

    BalasHapus